Minggu, 21 Juni 2009

Mentari pun Bersinar di Barat


Eropa Abad pertengahan diperintah oleh penguasa dogmatis Gereja Katolik. Gereja melarang kebebasan berpikir dan mengekang para ilmuwan. Orang-orang dapat dihukum hanya karena menganut keyakinan atau pemikiran yang berbeda. Buku-buku karya mereka dibakar dan mereka sendiri dihukum mati.

Pengekangan terhadap kegiatan penelitian di Abad Pertengahan seringkali disinggung dalam buku-buku sejarah. Namun sebagian kalangan menafsirkan keadaan tersebut secara keliru dan menyatakan bahwa para ilmuwan yang berselisih dengan Gereja adalah penentang agama. Namun, yang sesungguhnya terjadi justru sebaliknya – para ilmuwan yang menentang fanatisme Gereja adalah kaum beriman yang taat beragama. Mereka tidak menentang agama akan tetapi menentang dogma Gereja. Misalnya, ahli astronomi terkenal Galileo, yang hendak dihukum oleh pihak gereja karena menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, mengatakan:

“Saya haturkan rasa syukur tak terkira kepada Tuhan yang begitu baiknya telah memilih saya sendiri sebagai yang pertama menyaksikan pemandangan menakjubkan yang selama ini tersembunyi dalam kegelapan selama berabad-abad yang lalu.” (Galileo Galilei, dikutip dalam: Mike Wilson, “The Foolishness of the Cross,” Focus Magazine)


Gereja Katolik yang mengabaikan wahyu yang disampaikan oleh Nabi Isa AS, mengambil ajaran dan kebijakan yang tidak sejalan dengan agama. Bahkan ilmuwan seperti Galileo menghadapi tentangan keras dari pihak Gereja. Gambar ini melukiskan pengadilan Galileo selama masa inquisisi.

Para ilmuwan lain yang meletakkan landasan bagi bangunan ilmu pengetahuan modern, semuanya adalah orang taat beragama. Kepler, yang dianggap sebagai pendiri astronomi modern, berkata kepada mereka yang bertanya mengapa ia menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan:

“Saya memiliki niat menjadi seorang ahli teologi... namun dengan pekerjaan saya ini, kini saya menyaksikan bagaimana Tuhan juga diagungkan dalam astronomi, sebab ‘langit menyatakan keagungan Tuhan”’. (Johannes Kepler, dikutip dalam: J.H. Tiner, Johannes Kepler-Giant of Faith and Science (Milford, Michigan: Mott Media, 1977), hlm. 197)

Newton, salah seorang ilmuwan terbesar dalam sejarah, menjelaskan alasan yang mendasari dorongan kuatnya dalam melakukan kegiatan ilmiah dengan mengatakan:

“... Dia (Tuhan) adalah kekal dan tak terbatas, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui; dengan kata lain, masa keberadaan-Nya dari kekekalan hingga kekekalan; keberadaan-Nya dari ketakberhinggaan hingga ketakberhinggaan, Dia mengatur segala sesuatu, dan mengetahui segala sesuatu yang diadakan atau dapat diadakan... Kita mengenal-Nya hanya melalui perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu... [Kita] memuji dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya...” (Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy, Translated by Andrew Motte, Revised by Florian Cajore, Great Books of the Western World 34, Robert Maynard Hutchins, Editor in chief, William Benton, Chicago, 1952:273-74)

Von Helmont, salah seorang tokoh terkemuka di bidang kimia modern dan penemu termometer, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah bagian dari iman.

Sang jenius Pascal, bapak matematika modern, mengatakan bahwa: “Tapi dengan keimanan kita mengenal keberadaan (Tuhan); dalam keagungan kita akan mengenal sifat-Nya.” George Cuvier, pendiri palaeontologi modern, menganggap fosil sebagai bukti-bukti Penciptaan yang kini masih ada dan mengajarkan bahwa spesies makhluk hidup telah diciptakan oleh Tuhan. Carl Linnaeus, yang pertama kali menyusun klasifikasi ilmiah, meyakini penciptaan dan menyatakan bahwa keteraturan di alam merupakan satu bukti penting keberadaan Tuhan. Gregor Mendel, pendiri ilmu genetika, yang juga seorang biarawan, meyakini Penciptaan dan menentang teori-teori evolusi di zamannya seperti Darwinisme dan Lamarckisme.
Louis Pasteur, nama terbesar dalam sejarah mikrobiologi, membuktikan bahwa kehidupan tak dapat diciptakan melalui benda mati dan mengajarkan bahwa kehidupan merupakan keajaiban Tuhan. Fisikawan Jerman terkenal, Max Planck, mengatakan bahwa Pencipta jagat raya adalah Tuhan dan menegaskan bahwa keimanan adalah sifat wajib bagi para ilmuwan. Albert Einstein, yang dianggap sebagai ilmuwan terpenting abad ke-20, meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidak mungkin me niadakan Tuhan dan mengatakan, “ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.” Isaac Newton: “... Dia (Tuhan) adalah kekal dan tak terbatas, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui; dengan kata lain, masa keberadaan-Nya dari kekekalan hingga kekekalan...”

Sejumlah besar para ilmuwan lain yang mengendalikan sejarah ilmu pengetahuan adalah orang-orang taat beragama yang beriman kepada Tuhan, sebagian kecil di antara mereka adalah:

Leonardo da Vinci (1452-1519) (Seni, rekayasa, arsitektur), Georgius Agricola (1494-1555) (Mineralogi), Nicolas Steno (1631-1686) (Stratigrafi), Thomas Burnet (1635-1715) (Geologi), Increase Mather (1639-1723) (Astronomi), Nehemiah Grew (1641-1712) (Kedokteran), John Dalton (1766-1844) (Pendiri teori atom modern), Johann Gauss (1777-1855) (Geometri, geologi, magnetisme, astronomi), Benjamin Silliman (1779-1864) (Mineralogi), Peter Mark Roget (1779-1869) (Fisiologi), William Buckland (1784-1856) (Geologi), William Whewell (1794-1866) (Astronomi and Fisika), Richard Owen (1804-1892) (Zoologi, Paleontologi), Balfour Stewart (1828-1887) (Listrik Ionosfir), P.G.Tait (1831-1901) (Fisika, Matematika), Edward William Morley (1838-1923) Pemenang hadiah Nobel Fisika, Sir William Abney (1843-1920) (Astronomi), William Mitchell Ramsay (1851-1939) (Arkeologi), William Ramsay (1852-1916) (Kimia), Sir Cecil P. G. Wakeley (1892-1979) (Kedokteran), dan lain sebagainya.

Semua ilmuwan ini beriman kepada Tuhan dan mengabdi kepada ilmu pengetahuan dengan niat menyingkap rahasia alam semesta yang telah diciptakan-Nya. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi dan meneliti dengan pemahaman akan keberadaan dan kekuasaan Allah.

Lahirnya ilmu pengetahuan beserta perkembangannya adalah hasil dari pemahaman ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Temuan Newton lebih Penting Dibanding Einstein???

Menurut Kalian siapa yang memiliki kontribusi yang lebih besar pada ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia? Albert Einstein atau Isaac Newton?
Albert Einstein boleh saja menjadi penemu yang mengantarkan pada tenaga nuklir dan matahari, laser, bahkan deskripsi secara fisik tentang ruang dan waktu. Namun menurut sebuah jajak pendapat yang diadakan di Inggris, temuan Sir Isaac Newton memiliki dampak yang lebih besar pada ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Newton, seorang ilmuwan Inggris dari abad ke 17, yang dikenal berdasarkan teorinya mengenai gravitasi dan gerak, mengalahkan Einstein dalam dua jajak pendapat yang diselenggarakan oleh sebuah akademi ilmu pengetahuan ilmiah di London, Royal Society.

Lebih dari 1.300 anggota masyarakat dan 345 ilmuwan Royal Society ditanya secara terpisah mengenai siapa ilmuwan yang memberikan kontribusi lebih besar bagi ilmu pengetahuan, siapa memberikan pernyataan lebih penting tentang ilmu pengetahuan pada masanya, dan siapa yang memberikan kontribusi positif lebih besar pada umat manusia.

Pada jajak pendapat umum tersebut, Newton unggul di semua aspek. Dalam hal siapa yang memberikan kontribusi lebih besar pada umat manusia, Newton unggul atas Einstein - ilmuwan kelahiran Jerman - sebesar 0,2 (Newton : 50,1 persen dan Einstein : 49,9 persen).

Di kalangan para ilmuwan selisihnya lebih besar lagi yakni 60,9 persen untuk Newton dan 39,1 persen untuk Einstein.
Hasil jajak pendapat ini diumumkan dalam debat “Einstein vs. Newton”, dalam kuliah umum di Royal Society pada Rabu malam.

“Banyak orang mengatakan, membandingkan Newton dan Einsten sama seperti membandingkan apel dan jeruk. Tapi yang paling penting adalah orang-orang memberikan penghargaan yang besar atas kerja dua fisikawan ini, dan dampak mereka ke seluruh dunia tidak hanya sebatas pada laboratorium dan persamaan,” kata presiden Royal Society, Lord Peter May.

Para ilmuwan yang mendukung Newton berpendapat bahwa Newton telah memimpin perubahan dari era takhayul dan dogma menuju metode ilmu pengetahuan modern.
Pekerjaan terbesarnya, “Principia Mathematica”, menunjukkan bahwa gaya gravitasi adalah kekuatan universal yang mempengaruhi semua benda di alam semesta. Prinsip ini mengesampingkan keyakinan bahwa hukum gerak benda berbeda untuk benda di bumi dan di langit.

Para pendukung Einstein menyatakan bahwa teori relativitas ilmuwan itu meruntuhkan keyakinan Newton pada ruang dan waktu, dan menggiring pada teori pembentukan alam semesta, lubang hitam, dan jagad paralel. Selain itu, Einstein juga membuktikan secara matematis tentang keberadaan atom dan penemuan bahwa cahaya dibuat dari partikel-partikel yang disebut foton, sesuatu yang mendasari penemuan bom nuklir dan tenaga solar. (k-1)